Rabu, 09 Januari 2013

GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN POST OPERASI APENDIKTOMY ec. APPENDICITIS dgn PERFORASI


APENDIKTOMY ec. APPENDICITIS dgn PERFORASI

A.    Definisi
Peradangan pada appendiks vermiformis (umbai cacing)
B.     Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui, faktor yang berpengaruh adalah obtruksi dan infeksi :
1.      Obstruksi : hiperplasi kelenjar getah bening (60%), fecalith (35%), Corpus alienum (4%), striktur lumen (1%).
2.      Ifeksi : E.coli an streptococcus.
C.    Patogenesis
Ada 4 faktor yang mempengaruhi terjadinya appendicitis yaitu :
1.      Adanya isi lumen.
2.      Derajat sumbatan yang terus-mene.rus
3.      Sekresi mukus yang terus-menerus.
4.      Sifat inelastis (tak lentur) dari mukosa apendiks.
D.    Patofisiologi


Sumbatan :
▪ sekresi mukus
▪ tekanan intra lumen ↑
▪ gangguan drainase limphe
▪ oedema + kuman
▪ ulserasi mukosa
 
 
Appendicitis akut fokal :
Nyeri viseral ulu hati karena regangan mukosa



 


                                                                              Appendicitis supuratif :
                                                                              Nyeri pada ttk Mc Burney
                                                                              Peritonitis lokal




 



                                                                              Appendicitis Gangrenosa
                                                                             
                                                                                          Perforasi
                                                                                         
                                                                                                Peritonitis umum


Appendicitis akut setelah 24 jam dapat menjadi :
1.      Sembuh.
2.      Kronik.
3.      Perforasi.
4.      Infiltrat                abces


E.     Pemeriksaan diagnosis
1.      Anamnesa
a.   Nyeri (mula-mula di daerah epigastrium, kemudian menjalar ke Mc Burney).
b.   Muntah (rangsang viseral).
c.   Panas (infeksi akut)
2.   Pemeriksaan fisik
a.      Status generalis
§  Tampak kesakitan
§  Demam
§  Perbedaan suhu rektal >1/2 Celcius
§  Fleksi ringan art. Coxae dextra
b.      Status lokalis
§  Mc.burney :
Ø  Nyeri tekan (+)
Ø  Nyeri lepas (+) → rangsang peritoneum
Ø  Nyeri ketok (+)
§  Defens muskuler (+) →m.rektus abdominis
§  Rovsing Sign (+) → pada penekanan perut bagian kontra Mc.Burney (kiri) terasa nyeri di Mc.Burney karena tekanan tersebut merangsang peristaltik usus dan juga udara dalam usus, sehingga bergerak dan menggerakan peritoneum sekitar appendix yang sedang meradang sehingga terasa nyeri.
§  Psoas sign (+) → m.Psoas ditekan maka akan terasa sakit di titik Mc. Burney 9pada appendix  retrocaecal) karena merangsang peritoneum sekitar app yang juga meradang.
§  Obturator sign (+) → fleksi dan endorotasi articulatio costa pada posisi supine, bila nyeri berarti kontak dengan m. obturator internus, artinya appendix di pelvis.
§  Peritonitis umum (perforasi) :
Ø  Nyeri di seluruh abdomen
Ø  Pekak hati hilang
Ø  Bising usus hilang
§  Rectal touche : nyeri tekn pada jam 9 – 12

Alvarado score :
Digunakan untuk menegakan diagnosis sebagai appendicitis akut atau bukan, meliputi 3 symtom, 3 sign dan 2 laboratorium :
·         Appendicitis pain                      2 point
·         Lekositosis (>10 ribu)               2
·         Vomitus                                       1
·         Anoreksia                                    1
·         Erbound Tendeness Fenomen 1
·         Degre of celcius  (>37,5 ºC)       1

·         Obsevation of hemogram
 (segmen > 72%)                         1
·         Abdominal migrate pain          1  +
              
Total point                                        10

Dinyatakan sebagai appendicitis akut bila score > 7 point
                                                                                                                                                                                                             
3.      Pemeriksaan penunjang
§  Laboratorium :
Ø  Hb normal
Ø  Leukosit normal atau meningkat (bila lanjut umumnya leukositosis)
Ø  Hitung jenis : segmen lebih banyak
Ø  LED meningkat (pada appendicitis infiltrat)
§  Rongent :appendicogram
Hasil positif berupa :
Ø  Non-filling
Ø  Partial filling
Ø  Mouse tail
Ø  Cut off
       Rongent abdomen tidak menolong kecuali telah terjadi peritonitis.

F.      Diagnosa banding
1.      Kehamilan ektopik terganggu
2.      Salphingitis akut (adneksitis)
3.      Divertikel Mackeli
4.      Batu ureter
5.      Enteritis regional, gastroenteritis
6.      Batu empedu
7.      Pankretaitis
8.      Cystitis
9.      infeksi panggul
10.  Torsi kista ovarii
11.  Endometriosis

G.    Penatalaksanaan
1.      Appendictomi cito (app.akut, abses dan perforasi).
2.      Appendictomi elektif (app. kronik).
3.      Konservatif kemudian operasi elektif (app.infiltrat).

H.    Diagnosa keperawatan
1.      Nyeri akut b.d agen injuri fisik, diskontinuitas jaringan
2.      Risiko infeksi b.d prosedur invasif
3.      Kurang pengetahuan b.d kurang informasi
4.      Risiko ketidakseimbangan volume cairan



I.       Perencanaan
No
Diagnosa
Tujuan
intervensi
Rasional
1
Nyeri akut
Setelah dilakukan TP selama 2 x 24 jam tingkat kenyamanan klien meningkat, dibuktikan dengan level nyeri pada scala 2-3, klien dapat melaporkan nyeri pada petugas dan menyatakan kenyamanan fisik dan psikologis
Manajemen nyeri :
1.    Lakukan pegkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
2.    Observasi  reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
3.    Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya.
4.    Kaji kultur yang mempengaruhi nyeri.
5.    Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.
6.    Evaluasi bersama klien dan tim kesehatan tentang keefektifan kontrol nyeri masa lampau.
7.    Bantu klien dan keluarga untuk mendapatkan dukungan
8.    Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan.
9.    Kurangi faktor presipitasi nyeri.
10.Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis)
11.kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
12.Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi nyeri..
13.Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
14.Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri.
15.Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain tentang pemberian analgetik tidak berhasil.
16.monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri.
Administrasi analgetik :
1.    Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat.
2.    Cek program pemberian analogetik; jenis, dosis, dan frekuensi.
3.    Cek riwayat algi.
4.    ilih analgesik yang dibutuhkan dam kombinasi dari analgetik ketika pemberian lebih dari satu.
5.    Tentukan pilihan analgetik tergantung tipe dan beratnya nyeri.
6.    tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal.
7.    Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik.
8.    Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul.
9.    Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping.
Respon nyeri sangat individual sehingga penangananyapun berbeda untuk masing-masing individu.

Komunikasi yang terapetik mampu meningkatkan rasa percaya klien terhadap perawatt sehingga dapat lebih kooperatif dalam program manajemen nyeri.

Pengelaman lampau tentang nyeri dan penenganannya dapat dijadikan bahan evaluatif untuk intervensi nyeri saat ini.

Dukungan sangat diperlukan ketika nyeri sedang berlangsung dan untuk penanganan.

Lingkungan yang nyaman dapat membantu klien untuk mereduksi nyeri.

Pengalihan nyeri dengan relaksasi dan distraksi dapat mengurangi nyeri yang sedang timbul.

Pemberian analgetik yang tepat dapat membantu klien untuk beradaptasi dan mengatasi nyeri.

Tindakan evaluatif terhadap penanganan nyeri dapat dijadikan rujukan untuk penanganan nyeri yang mungkin muncul berikutnya atau yang sedang berlangsung.





2
Risiko infeksi
Setelah dilakukan TP selama 2 x 24 jam tidak terdapat faktor risiko infeksi pada klien dibuktikan dengan status imune klien adekuat, klien mengetahui cara mengontrol nyeri dan konsisten meng gambarkan perilaku mendeteksi risiko dan mengontrol risiko
Konrol infeksi :
1.    Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.
2.    Pertahankan teknik isolasi.
3.    Batasi pengunjung bila perlu.
4.    Intruksikan kepada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan sesudahnya.
5.    Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan.
6.    Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
7.    Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung.
8.    Cukur dan persiapkan daerah untuk persiapan prosedur infasif dan pembedahan.
9.    Pertahankan lingkungan yang aseptik selama pemasangan alat.
10.Lakukan perawatan luka dan dresing infus setiap hari.
11.Tingkatkan intake nutrisi.
12.berikan antibiotik sesuai program.
Proteksi terhadap infeksi
1.    Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
2.    Monitor hitung granulosit dan WBC.
3.    Monitor kerentanan terhadap infeksi.
4.    Batasi pengunjung.
5.    Saring pengunjung terhadap penyakit menular.
6.    Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan.
7.    Pertahankan teknik isolasi bila perlu.
8.    Berikan perawatan kulit pda area oedema.
9.    Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase.
10.Inspeksi kondisi luka, insisi bedah.
11.Ambil kultur.
12.Dorong masukan nutrisi adekuat.
13.Dorong masukan cairan adekuat.
14.Dorong istirahat yang cukup.
15.Monitor perubahan tingkat energi.
16.Dorong peningkattan mobilitas dan latihan.
17.Dorong batuk dan napas dalam.
18.Instruksikan klien untuk minum antibiotik sesuai program.
19.Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi.
20.Ajarkan cara menghindari infeksi.
21.Batasi buah segar, sayuran, dan merica pada pasien neutropenia.
22.Jauhkan bunga dan tanaman dari lingkungan klien.
23.Berikan ruang pribadi.
24.Yakinkan keamanan air dan hiperklorinisasi dan pemanasan.
25.Laporkan kecurigaan infeksi.
26.Laporkan jika kultur positif.
Imunisasi vaksinasi :
1.       Ajarkan kepada keluarga tentang jadwal imunisasi, alsan dan manfaatnya serta efek samping.
2.       Ajarkan kepada keluarga tentang jenis vaksinasi yang sesuai dengan paparan tertentu.
3.       Berikan informasi tertulis jika perlu.
4.       Sediakan catatan tentang tanggal dan jenis imunisasi.
5.       Identifikasi tentang teknik administrasi yang tepat.
6.       Identifikasi rekpomendasi terbaru tentang manfaat imunisasi.
7.       Berikan injeksi pada paha anterolateral.
8.       Informasikan imunisasi untuk turis yang akan pergi keluar negeri.
9.       Identifikasi tentang kontra indikasi imunisasi.
10.    yakinkan informed concenst untuk pemberian imunisasi.
11.    Bantu keluarga dengan masalah keuangann untuk pembayaran imunisasi.
12.    Observasi klien setelah pemberian imunisasi.
13.    Restrain anak selama pemberian imunisasi.
14.    Jadwalkan imunisasi dalam selang waktu yang tepat.
Kondisi lingkungan memberikan pengaruh yang penting dalam terjadinya infeksi.

Penularan infeksi dapat melalui pengunjung yang mempunyai penyekit menular.

Tindakan antiseptik dapat mengurangi pemaparan klien dari sumber infeksi.

Pengunaan alat pengaman dapat melindungi klien dan petugas dari tertularnya penyakit infeksi.







Perawatan luka setiap hari dapat mengurangi terjadinya infeksi serta dapat untuk mengevaluasi kondisi luka.

Pnemuan secara dini tanda-tanda infeksi dapat mempercepat penanganan yang diperlukan sehingga klien dapat segera terhindar dari resiko infeksi atau terjadinya infeksi dapat dibatasi.

Pengguanan teknik aseptik dan isolasi klien dapat mengurangi pemaparan dan penyebaran infeksi.

Kemerahan, panas dan produksi dari luka mengidikasikan terjadinya infeksi.

Satus nutrisi yang adekuat, istirahat yang cukup serta mobilisasi dan latihan yang teratur dapat meningkatkan percepatan proses penyembuhan luka.

Konsumsi antibiotik sesuai program dapat mengurangi resiko resistensi kuman.





Dengan pengetahuan yang cukup maka keluiarga mampu mengambil peran nyang positif dalam program pencegahan infeksi dan lebih kooperatif dalam program pengobatan.








Hasil kultur positif menunjukan telah terjadi infeksi, dan memerlukan penanganan yang tepat sesuai dengan kumen penyebab infeksi.

Pemberian imunisasi dapat mencegah/ mengurangi terjadinya/keparahan terhadap infeksi yang terjadi.

Pengetahuan keluarga tentang imunisasi yang meningkat mampu memotivasi mereka untuk proaktif dalam program imunisasi.
3
Kurang pengetahuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam keluarga mampu :
a.    Memahami tentang penyakit dan perawatan yang diberikan
b.    Memahami informasi yang diberikan dan mempertahankan kesehatan yang optimal
c.    Bekerja sama dengan tenaga kesehatan secara proaktif dalam program perawatan
1.   Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit, lama penyembuhan dan harapan kesembuhan.
2.   Berikan informasi secara jelas dan sederhana.
3.   Jelaskan setiap prosedur tindakan yang diberikan; maksud dan tujuan serta sikap yang diharapkan.
4.   Jelaskan istilah-istilah medis yang klien/keluarga belum mengetahuainya.
5.   Libatkan klien/keluarga dalam perencanaan dan program perawatan.
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien/ keluarga tentang penyakit dan perawatan serta harapan-harapan nya

Meningkatkan pengetahuan klien/ keluarga sehingga dapat lebih kooperatif dalam program perawatan
4
Risiko ketidak seimbangan volume cairan
Perawat akan mengatasi dan meminimalkan faktor-faktor risiko ketidak seimbangan cairan, klien akan  memperlihatkan tanda-tanda keseim bangan cairan , KH :
BJ urine normal, intake dan output seimbang, tidak terjadi penurunan BB yang mencolok
1.       Pantau tanda dan gejala dini defisit volume cairan
2.       Berikan obat antiemetik sesuai program.
3.       Berikan cairan sering dalam jumlah kecil untuk mendorong urinasi setiap 2 jam.
4.       Monitor respon pasien terhadap pemberian terapi cairan.
5.       Evaluasi pemberian terapi cairan dari respon yang muncul
6.       Pantau input dan output cairan, pastikan input dapat mengkompensasi output.
7.       Timbang BB setiap hari.
Penurunan volume yang bersirkulasi menyebabkan kekeringan jaringan dan pemekatan urine, deteksi  dini memungkinkan terapi penggantian sesegera mungkin.
Anti emetik dapat mencegah kehilangan cairan melalui muntah dengan menghambat rangsang terhadap pusat muntah.
Output dapat melebihi input sehingga dapat terjadi dehidrasi, hal ini apat meningkatkan laju filtrasi glomerulus, membuat output tidak adekuat





Daftar Pustaka

Markum. A.H.1991, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta.
Cecily L.Betz & Linda A. Sowden, 2001, Buku saku Keperawatan Pediatri, EGC, Jakarta.
Carpenito,LJ, 1999, Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, EGC, Jakarta.
McCloskey J.C, Bulechek G.M, 1996, Nursing Intervention Classification (NIC), Mosby, St. Louis.
Nanda, 2001, Nursing Diagnoses : Definition and Classification 2001-2002, Philadelphia.
Price & Wilson,1995, Patofisiologi. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, EGC, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar