Rabu, 13 Juni 2012

Asuhan Kebidanan Plasenta Previa


 PLASENTA PREVIA

A.    PENGERTIAN
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada plasenta previa, plasenta berimplantasi pada bagian rahim bawah. Luas bagian plasenta yang ditutupi lubang serviks internal menentukan klasifikasi plsenta previa.
Insidens :
·         1/200 kelahiran.
·         Insidens sering pada wanita multipara (1/20 pada grande multipara)
·         Insidens menurun di Amerika Serikat.

B.     KLASIFIKASI
Berdasarkan derajat abnormalitasnya, plasenta previa dibagi menjadi 4 macam :
1.      Plasenta previa totalis : ostium internum serviks tertutup sama sakali
2.      Plasenta previa parsialis : ostium internum serviks tertutup jaringan plasenta sebagian.
3.      Plasenta previa marginalis : tepi plasenta terletak pada bagian pinggir ostium internum serviks.
4.      Plasenta letak rendah : implantasi plasenta pada segmen bawah uterus hingga letak tepi plasenta sangat dekat dengan ostium internum serviks.
                                                                  
C.     ETIOLOGI
Penyebab plasenta previa belum diketahui secara pasti. Frekuensi plasenta previa meningkat pada :
1.      Grande multipara
2.      Primigravida tua
3.      Bekas seksio sesaria
4.      Bekas aborsi
5.      Kelainan janin, dan
6.      Leioioma uteri

D.    PATOFISIOLOGI
Perdarahan anteprtum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilah 20 minggu, saat segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis. Umumnya terjadi pada trisemester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan. Pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan anus marginalis dari plasenta. Perdarahan tak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal. 

E.     MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari plasenta previa terdiri dari 2 metode yaitu :
1.      Anamnesa
Perdarahan jalan lahir berwarna merah segar tanpa rasa nyeri, tanpa sebab, terutama pada multigravida pada kehamilan setelah 20 minggu. 
2.      Pemeriksaan Fisik
·         Pemeriksaan luar, bagian terbawah janin biasanya belum masuk panggul, ada kelainan letak janin.
·         Pemeriksaan inspekulo : perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum.
      Penentuan letak plasenta secara langsung baru dikerjakan bila fasilitas lain tidak ada dan dilakukan dengan keadaan siap operasi, disebut pemeriksaan dalam di atas meja operasi ( PDMO ). Caranya sebagai berikut :
1.      Perabaan forniks. Hanya bermakna bila janin sambil mendorong sedikit kepala janin ke arah pintu atas panggul. Perlahan-lahan raba seluruh forniks dengan jari. Perabaan lunak bila antara jari dan kepala terdapat plasenta. Bekuan darah dapat dikelirukan dengan plasenta.
2.      Pemeriksaan melalui kanalis servikalis, setelah perabaan forniks dicurigai adanya plasenta previa. Bila kanalis servikalis telah terbuka, perlahan-lahan masukkan jari telunjuk ke dalam kanalis servikalis uinrtuk meraba kotiledon plasenta. Jangan sekali-kali berusaha menyusuri pinngir plasenta seterusnya karena mungkin plasenta akan lepas dari insersinya.


F.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      USG untuk diagnosis pasti, yaitu untuk menentukan letak plasenta.
2.      Pemeriksaan darah : hemoglobin dan hematokrit.

G.    KOMPLIKASI
Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahan, plasentisis, dan endometrisis pasca persalinan. Pada janin biasanya terjadi persalinan prematur dan komplikasinya seperti asfiksia berat.

H.    PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan plasenta previa harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut ( misalnya : batuk dan mengejan karena sulit buang air besar ).
Pasang infuse cairan NaCl fisiologis. Bila tidak memungkinkan, beri cairan per oral. Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 menit untuk mendetaksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. Pantau juga BJJ dan pergerakan janin.
Bila terjadi renjatran, segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah. Bila tidak teratasi, upayakan penyelamayatan optimal. Bila teratasi, perhatikan usia kehamilan.
Penanganan di rumah sakit dilakukan berdasarkan usia kehamilan. Bila terdapat renjatan usia gestasi kurang dari 37 minggu, taksiran berat janin kurang dari 2500 gr, maka:
·         Bila perdarahan sedikit, rawat sampai usia kehamilan 37 minggu, lalu lakukan mobilisasi bertahap. Beri kortikosteroid 12 mg intavena per hari selama 3 hari.
·         Bila perdarahan berulang, lakukan PDMO. Bola ada kontraksi, tangani seperti persalinan preterm.
Bila tidak ada renjatan, usia gestasi 37 minggu atau lebih, taksiran berat janin 2500 gr atau lebih, lakukan PDMO. Bila ternyata plasenta previa, lakukan persalinan per abdominam. Bila bukan usahakan partus porvaginam.


Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Plasenta Previa

A.    PENGKAJIAN
1.      Data Dasar
·         Keluhan utama
·         Tanda-tanda vital
·         Graviditas, pantas
·         LMP/ EOB/ HPL/ HPMT
·         Riwayat kehamilan ( dahulu dan sekarang )
·         Alergi
·         Mual dan muntah, nyeri ( awitan, kualitas, keadaan yang memperberat )
·         Masalah perdarahan atau pembekuan.
·         LOC ( tingkat kesadaran )
·         Status emosional
2.      Kehamilan awal
·         Konfirmasi kehamilan
·         Perdarahan ( terang atau gelap, intermitten, atau kontinu )
·         Nyeri ( jenis, intensitas, persistensi )
·         Secret vagina
3.      Kehamilan lanjut
·         EOB (HPMT)
·         Perdarahan ( kuantitas, nyeri )
·         Secret vagina
·         Status ketuban
·         Aktivitas rahim
·         Sakit abdomen
·         Status/ viabilitas janin



B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
      Menurut Bobak (2004), diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada klien derngan plasenta previa, yaitu :
1.      Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perdarahan hebat akibat plasenta previa.
2.      Resiko tinggi inveksi yang berhubungan dengan anemia dan perdarahan akibat plasenta previa.
3.      Resiko tinggi cedera (janin) yang berhubungan dengan penurunan perfusi uterin/ plasenta akibat perdarahan.

C.     RENCANA / INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perdarahan hebat akibat plasenta previa.
·         Hasil yang diharapkan:
Volume darah intravaskuler dan curah jantung dapat dipertahankan, dengan kriteria:
-          nadi normal
-          tekanan darah normal
-          nilai hemodinamik dan laboratorium normal.
·         Rencana tindakan:
a.       - Kaji dan catat tanda-tanda vital, tekanan darah
- Kaji status kesadaran
- Kaji perfusi perifer
- Pantau masukan dan haliuran
- Pantau jumlah perdarahan
(Rasional : pengkajian akurat status hemodinamik merupakan dasar perencanaan dan evaluasi  intervensi).
b.      - Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena dan atau terapi penggunaan
- Kolaborasi pemberian obat/ medikasi sesuai program.
( Rasional : pemberian volume vaskuler memerlukan terapi intravena dan intervensi farmakologi. Kehilangan volume darah harus diperbaiki untuk mencegah komplikasi lanjut, seperti infeksi, gangguan pada janin dan gangguan pada system organ vital itu ).
2.      Resiko tinggi inveksi yang berhubungan dengan anemia dan perdarahan akibat plasenta previa.
·         Hasil yang diharapkan:
Klien akan tetap aman secara fisiologis, dengan kriteria :
a.       Tidak ada infeksi
b.      Nilai laboratorium kembali normal
·         Rencana tindakan:
a.       Kaji dan catat tanda vital, tekanan darah.
b.      Kaji nyeri tekan pada uterus.
c.       Kaji perubahan bau rabas vagina.
d.      Pantau hasil laboratorium untuk melihat adanya perubahan diferensial atau peningkatan SDM.
e.       Kaji janin untuk melihat adanya tanda infeksi intra uterin, seperti takikardi janin dan penurunan nilai profil biofisiologis.
3.      Resiko tinggi cedera (janin) yang berhubungan dengan penurunan perfusi uterin/ plasenta akibat perdarahan.
·         Hasil yang diharapkan
      Janin akan tetap aman secara fisiologis, dengan kriteria uji nonstres reaktif, nilai profil biofisik normal, tidak ada deselerasi lanjut selama persalinan dan bayi lahir tanpa gangguan.
·         Rencana tindakan
a.       pantau janin setiap hari untuk melihat adanya tanda takikardi, penurunan gerak, kehilangan reaktivitas pada uji nonstres dan adanya deselerasi pada pemantauan janin.
b.      Dapatkan profil biofisik sesuai program untuk mengkaji tanda infeksi intra uterin.
c.       Dapatkan pemeriksaan ultrasonografi sesuai program untuk mengevaluasi pertumbuhan janin dan volume cairan amnion.





DAFTAR PUSTAKA :

Bobak.2004.Keperawatan Maternitas.Jakarta:EGC

Mansjoer,Arif.1994.Kapita Selekta Kedokteran jilid I.Jakarta:Widya Medika

R.James,dkk.2002.Buku saku Obstetri dan Genekologi.Jakarta.Widya Medika

Bari,Abdul.2002.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta:Yayasan Prawirohardjo


























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar